[x]

Umi 2

Sambungan Dari bagian 1

Nada suaranya meninggi. Aku masih menahan diriku. Rasanya aneh kalau selama ini kami akrab tanpa ada suatu keinginan untuk berkencan, tiba-tiba saja malam ini aku harus bergumul dengannya. Ia tidak sabar lagi. Diciumnya pipiku dan tangannya tergesa-gesa membuka kancing bajuku.

“Di kamarku saja..!” katanya.
“Sssh., kamu memang sangat pandai mempermainkan emosiku. Puasin aku. Pandanganku tidak bisa ditipu. Aku sangat yakin kau sangat perkasa di atas ranjang,” rintih Umi sambil memejamkan matanya.



Rintihannya terhenti waktu bibirku memagut bibirnya yang merekah. Lidahku menerobos ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Umi mulai menggeliat dan mulai membalas ciumanku dengan meliukkan lidahnya yang langsung kuisap. Tanganku mulai menari di atas dadanya. Kuremas dadanya. Kurasakan payudaranya sangat keras. Jariku terus menjalar mulai dari dada, perut terus ke bawah hingga pangkal pahanya. Umi makin menggeliat kegelian. Lidahku sudah beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit daun telinganya.

Pelukanku kulepas dan aku bergerak berputar ke belakangnya. Tanganku yang mendekap dadanya dipegangnya erat. Badan dan payudaranya sungguh amat keras. Rambut Umi kucium. Mulutku menggigit tengkuknya. Akulah sang pemangsa dan buruanku kini sudah takluk dalam cengkeraman taringku.

Badannya mulai menghangat. Bibir dan hidungku makin lancar menyelusuri kepala dan lehernya. Umi makin menggelinjang apalagi waktu tanganku meremas buah dadanya yang masih tertutup baju kaus itu dari belakang. Kuletakkan mukaku dibahunya dan kusapukan napasku di telinganya. Umi menjerit kecil menahan geli tapi malah menikmati. Ia mempererat pegangan tangannya di tanganku.

Aku memeluknya dari belakang sambil berjalan ke arah kamarnya. Tangannya ke belakang dan meremas isi celanaku yang mulai memberontak. Setelah masuk ke dalam kamar dilepaskannya tanganku dan ia mematikan lagu instrumen The Police yang diputarnya tadi. Tangannya bergerak-gerak di rak CD, akhirnya diambilnya album lagu barat lama. Ia mematikan lampu besar dan mengantinya dengan lampu tidur. Kulihat sebuah ranjang yang besar telah menanti kami.

Tak lama kemudian nada-nada lagu Michelle memenuhi seluruh kamar. Aku merendahkan badan dan mulai mencium dan menggigit pinggulnya. Ia mendongakkan kepalanya dan berdesis lirih. Sedari tadi kami bercumbu, ia tidak pernah mengeluarkan pekikan atau erangan. Hanya desisan dan desah tertahan sambil gigi atasnya menggigit bibir bawahnya.

Aku dibelakangnya berlutut dengan meneruskan aksi tanganku ke betisnya, sementara bibirku masih bergerilya di lipatan lutut belakangnya. Ia merentangkan kedua kakinya dan bergetar meliuk-liuk. Kucium pahanya dan kuberikan gigitan semut. Ia makin meliukkan badannya, namun suaranya tidak terdengar. Hanya napasnya yang mulai memburu.

Pada saat ia sedang menggeliat, kuhentikan ciumanku di lututnya dan aku berdiri di hadapannya. Kuusap pantat dan pinggulnya. Kembali ia berdesis pelan. Tubuhnya memang padat dan kencang. Lekukan pinggangnya indah, dan buah dadanya nampak bulat segar dengan puting tegak menantang berwarna coklat kemerahan.

Dengan cepat langsung kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan-pelan ke bawah sambil menciumi dan menjilati leher mulusnya. Umi semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang padat menekan keras dadaku. Bau tubuhnya dengan sedikit aroma deodoran makin menambah nafsuku. Ia menggerinjal dan mulutnya mulai menggigit kancing bajuku satu persatu.

Dengan sebuah tarikan pelan ia melepas bajuku. Ia tertegun melihat dadaku yang bidang dengan bulu dada yang lebat. Diusap-usapnya dadaku dan kemudian putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya, ia membalas dengan lembut. Bibirnya memang agak tebal dan keras, namun kemudian melemas. Lumatanku mulai berubah menjadi lumatan ganas. Ia melepaskan ciumanku.

Ia menatap mataku dan berbisik, “Pelan saja To.. Kita masih punya banyak waktu. Aku ingin kita bermain dengan lembut!” Kini aku tahu mengapa dari tadi wanita ini tidak mengeluarkan suaranya dengan keras!

Kusingkapkan kausnya. Ia mengangkat kedua tangannya. Dengan mudah kubuka kausnya. Kini tangannya membuka celana panjangku dan kemudian membuka celana pendeknya sendiri. Kini kami tinggal mengenalan pakaian dalam saja. Bra dan celana dalamnya berwarna krem berpadu dengan kulitnya yang sawo matang. Bra-nya seakan-akan tidak cukup memuat buah dadanya sehingga dapat kulihat lingkaran kemerahan di sekitar putingnya. Celananya dari bahan sutra transparan sehingga padang rumput di bawah perutnya terihat membayang.

“Kamu pasti punya banyak koleksi wanita?” tanyanya.

Aku tidak menjawabnya. Aku tahu sebenarnya dia ingin aku mengatakan tidak, namun kalaupun kujawab “tidak” dia juga tidak akan percaya.

“Eehhngng, ..” Ia mendesah ketika lehernya kujilati. Kulihat ia melirik bayangan kami di cermin dinding yang besar.

Umi mendorongku ke ranjang dan menindih tubuhku. Tanganku bergerak punggungnya membuka pengait bra-nya. Kususuri bahunya dan kulepas tali bra-nya bergantian. Kini dadanya terbuka polos di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang menggantung di atasku. Putingnya berwarna coklat kemerahan dan sangat keras. Digesek-gesekkannya putingnya di atas dadaku.

Bibirnya yang agak tebal kini semakin lemas dan lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Ina mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku kemudian memainkan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya. Aku hanya sekedar mengimbangi. Kali ini akan kubiarkan Umi yang memegang tempo permainan. Sesekali gantian lidahku yang mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Umi menggeserkan tubuhnya ke arah bagian atas tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kujilati.

“Aaacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Teruskan”. Ia masih tetap menjaga volume suaranya..

Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap pelan namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku. Dadanya bergerak kembang kempis dengan cepat, detak jantungnya juga meningkat, pertanda nafsunya mulai naik. Napasnya berat dan terputus-putus.

Tangannya menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas dan mengocoknya dengan lembut. Pantatku kunaikkan dan dengan sekali tarikan, maka celana dalamku sudah terlepas. Kini aku sudah dalam keadaan polos tanpa selembar benang. Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya kemudian menggigit daun telingaku. Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini dia mulai menjilati putingku dan tangannya mengusap bulu dadaku sampai ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan ini. Kupegang pinggangnya erat-erat.

Tangannya kemudian bergerak membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya begitu saja. Tangan kiriku kubawa ke celah antara dua pahanya. Kulihat ke bawah rambut kemaluannya tidaklah lebat dan dipotong pendek. Sementara ibu jariku mengusap dan membuka bibir vaginanya, maka jari tengahku masuk sekitar satu ruas ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan jariku sudah menemukan sebuah tonjolan daging seperti kacang.

Setiapkali aku memberikan tekanan dan kemudian mengusapnya Umi mendesis, “Huuhh.. Aaauhh.. Engngnggnghhk”

Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulut bergerak ke bawah, menjilati perutku. Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia memandang sebentar kepala penisku yang lebih besar dari batangnya dan kemudian mengecup batang penisku. Namun ia tidak mengulumnya, hanya mengecup dan menggesekkan hidungnya pada batang penis dan dua buah bola yang menggantung di bawahnya. Aku hanya menahan napasku setiap ia mengecupnya.

Umi kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kugulingkan badannya sehingga aku berada di atasnya. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara di dalam hidungnya.

“SShh.. Ssshh.. Ngghh..”

Perlahan lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya. Terasa masih kering, tidak lembab seperti wanita yang lainnya. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kutekan pantatku perlahan. Kurasakan penisku seperti membentur tembok lunak sehingga tidak bisa masuk.

Umi merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diangkat sedikit. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya sampai terasa keras sekali dan kutekan lagi, namun masih membentur tembok lagi. Umi merintih dan memohon agar aku segera memasukkannya sampai amblas.

“Ayolah Anto tekan.. Dorong sekarang. Ayo.. Please.. Pleasse..!!”

Kucoba sekali lagi. Kembali tangannya mengarahkan ke lubang guanya dan kutekan, meleset dan hampir batang penisku tertekuk.. Ia menggumam dan menarik napas dan melepaskannya dengan kuat, gemas. Didorongnya tubuhku ke samping.

“Sebentar dulu To!” katanya sambil meraih sebuah botol kecil di atas kepala kami.

Kulihat ternyata baby oil. Diambilnya setetes dan diraihnya penisku. Dikocoknya sebentar untuk mengembalikan ketegangannya dan kepala penisku dilumurinya dengan baby oil tadi. Kepalanya yang sudah kemerahan nampak semakin merah dan berkilat.

Ia merebahkan diri lagi dan kutindih sambil berciuman. Kucoba untuk memasukkannya lagi, masih dengan bantuan tangannya, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot diantara buah zakar dan anus, dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil, setengah batang penisku sudah tertelan dalam vaginanya.

“Ouhh.. Umi,” desahku setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku karena vaginanya sangat kering dan sempit. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar sambil menunggu posisi dan waktu yang tepat. Setetes baby oil tadi sangat membantu penisku untuk menerobos seluruh lorong guanya.

Umi mengimbangiku dengan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan gerakanku sudah lancar dan mulai ada sedikit lendir yang membasahi vaginanya maka kupercepat gerakanku. Namun Umi menggeleng dan menahan pantatku, kemudian mengatur gerakan pantatku dalam tempo sangat pelan. Untuk meningkatkan kenikmatan maka meskipun pelan namun setiap gerakan pantatku selalu penuh dan bertenaga. Akibatnya maka keringatpun mulai menitik di pori-poriku.

“Anto.. Ouhh.. Apa kataku tadi.. Nikmat.. Ooouuhh. Kamu memang betul-betul perkasa” desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kirinya hampir melewati kepalaku. Tetapi ia menahan tanganku.”Jangan.. Aku tak mau nungging!” bisiknya. Kukembalikan kakinya dalam posisi semula. Kini kedua kakinya kurapatkan dan kujepit dengan kedua kakiku. Penisku hampir-hampir tidak bisa bergerak dalam posisi ini. Tidak ada kontraksi ototnya namun vaginanya terasa sangat sempit menjepit penisku.

Kugulingkan tubuhnya lagi sampai ia menindihku. Kubiarkan ia menjadi sang nahkoda untuk memegang kemudi. Aku ingin mengantarnya sampai menggapai pulau impian. Kakinya keluar dari jepitan kakiku dan kembali dia yang menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Kembali aku dalam posisi pasif, hanya mengimbangi dengan gerakan melawan gerakan pinggul dan pantatnya.

Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.

Ia mengatur gerakannya dengan tempo pelan namun sangat intens. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku terbenam dalam-dalam sampai kurasakan menyentuh dinding rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ina semakin menekan pantatnya sehingga tubuh kamipun semakin merapat.

Ia menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah tang yang kuat namun lunak. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya, namun tidak ada suatu gerakan yang kasar dan menghentak-hentak. Darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang mendesir-desir.

“Ouhh.. Ssshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering.

Bersambung Ke bagian 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...