[x]

Umi 1

Kantorku mulai bulan ini memberikan fasilitas fitness sekali seminggu untuk karyawan yang mau. Tempatnya di sebuah fitness centre di sekitar Jl. Caringin, tidak jauh dari Harmoni tempat kantorku berada. Fasilitas yang diberikan berupa jadwal latihan fitness atau senam dan instruktur. Instrukturnya seorang anak muda yang supel dan energik, Ojie, orang biasa memanggilnya. Nama sebenarnya kami tidak tahu.

Sebulan kami sudah menikmati fasilitas itu. Memang ada perbedaan yang kurasakan. Badanku lebih fit dan segar. Otot-ototku belum memang belum menunjukkan kemajuan, namun aku merasa lenganku sekarang lebih kencang dan keras.


Sepulang kerja aku dan beberapa teman sudah berada di lokasi fitness centre. Sore ini jadwal kami untuk menggunakannya. Kami sudah berganti pakaian dan siap di ruang latihan. Ojie bersama seorang wanita yang belum kukenal sebelumnya mendatangiku dan berkata.

“Maaf Pak Anto, sore ini saya ada acara lain, kalau ada sesuatu keperluan sampaikan saja pada Mbak Umi, teman saya ini. Mbak kenalkan ini Pak Anto dan rekan-rekan kantornya, Pak ini Mbak Umi”.
Kuulurkan tanganku pada wanita tadi, “Saya Anto”.
“Umi”, jawabnya singkat.
“Baiklah Pak dan Mbak Umi, saya mohon diri. Have a nice day”, kata Ojie sambil meninggalkan kami.
“Silakan kalau mau mulai berlatih, Bapak dan Ibu semua. Kalau ada sesuatu atau perlu bantuan saya ada disini menemani berlatih”, kata Umi ramah.

Kamipun masing-masing mulai mengambil posisi berbagai alat latihan. Dari kaca di dinding kuperhatikan instruktur baru ini. Wajahnya sederhana, tidak terlalu cantik dalam artian kulitnya tidak terlalu putih, bibirnya sedang, malahan cenderung agak tebal. Giginya sedikit gingsul di bagian kanan. Kalau mengenai badannya, namanya saja instruktur fitness dan senam, pasti oke punya dong. Kupikir-pikir kalau ada lomba mirip Rita Sugiarto ia ada harapan untuk memenangkan kontes.

Aku pernah membaca sebuah artikel yang membahas sifat seseorang melalui bentuk tubuh dan ciri-ciri fisik, bentuk tubuh dan muka seperti Umi ini memiliki gairah nafsu yang tinggi. Mulanya ia akan malu-malu dan seakan-akan menolak, namun kalau sudah terpancing nafsunya, hmm, ia akan memperlakukan pasangannya seperti seekor singa betina. Oh ya, gelang emas yang melingkar di pergelangan kakinya semakin meyakinkanku.

Entah mengapa setiap melihat wanita yang memakai gelang kaki, ada sesuatu yang meletup-letup padaku. Dari hasil pengamatanku, aku berpendapat bahwa wanita yang mengenakan gelang kaki, meskipun ia tidak terlalu cantik, namun mempunyai pesona dan gairah seksual yang luar biasa.

Waktu latihan habis dan kamipun berkemas-kemas untuk pulang. Kulihat ia masih berada di ruang latihan belum ganti pakaian.

“Lho belum pulang Mbak?” tanyaku sambil sekilas melirik belahan dadanya.

Ia mengenakan pakaian fitness yang ketat sehingga di bagian atas belahan dadanya terlihat jelas. Ia tersipu-sipu begitu tahu aku melirik dadanya.

“Ah Bapak ini, belum. Saya masih harus melatih senam aerobik di lantai 2,” katanya.
“Kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih untuk latihan sore ini,” aku mohon diri karena kulihat teman yang lain juga sudah siap untuk pulang.
“Sama-sama Pak, selamat jalan. Hati-hati di jalan. Kalau ada mobil jangan ditabrak,” katanya sambil sedikit bercanda.

Demikianlah pada minggu-minggu berikutnya kalau Ojie lagi tidak ada, Umi yang menunggui kami berlatih. Orangnya cukup sabar dan murah senyum. Setiap kali Umi menunggui kami berlatih, aku coba dengan berbagai cara untuk memancing perhatiannya. Namun ia kelihatannya tidak terlalu menghiraukan, kami semua diperlakukan sama. Ia hanya menganggap kami semua hanya sebatas hubungan instruktur dan peserta saja.

Suatu ketika setelah selesai latihan aku merasa lapar sekali. Teman-teman yang lain tidak ada yang mau menemani makan di kantin di lantai bawah fitness centre. Ruang fitness ada di lantai 3, ruang senam ada di lantai 2 dan di lantai 1 ada kantin dan kantor.

Aku masuk ke dalam kantin. Kulihat mejanya terisi semua, tapi ada satu meja di sudut yang hanya dipakai satu orang wanita. Aku tidak begitu memperhatikan wanita yang duduk di meja tersebut. Setelah menarik kursi, aku baru sadar ternyata Umi yang ada di situ. Ia juga agak terkejut melihatku muncul di depannya.

“Sendirian Mbak Umi? Boleh saya duduk di sini?” sapaku. Ia hanya mengerakkan telapak tangannya memberi isyarat menyilakan aku duduk.
“Sudah selesai latihannya Pak? Mana teman-temannya?”
“Nggak ada yang mau diajak makan. Heran, diajak makan saja pada nggak mau. Gimana kalau diajak kerja ya?”
“Bapak bisa aja”.

Aku memesan cap cay. Sambil menunggu kami mulai mengobrol tentang kondisi Jakarta belakangan ini. Wawasannya luas. Dari raut muka dan matanya kelihatannya ia seorang yang cerdas. Smart. Aku baru saja menemukan sex appealnya. Kecerdasan otak yang ditunjang dengan bodinya membuat ia kelihatan seksi dan, so charming. Selama ini hanya bodynya saja yang kulihat dan rasanya tidak ada yang istimewa bagiku. Bodynya bukannya tidak bagus, namun aku belum menemukan sisi yang istimewa. Sekarang inilah aku berpendapat bahwa ia seorang yang menarik.

“Lama juga ya cap cay-nya. Hhh!” keluhku.
“Sabar saja pak, maklum sore ini pengunjungnya banyak”.

Tidak berapa lama pesananku datang.

“Mari, saya makan,” kataku berbasa-basi.
“Terima kasih Pak. Silakan, saya sudah. Emm.. Maksud saya, saya hanya minum saja. Haus. Tadi habis melatih senam”.

Ia memperhatikanku menambahkan lada putih ke dalam capcayku. Setelah itu aku masih minta cabe rawit beberapa butir pada pelayan. Ia tersenyum kecil.

“Biasanya orang yang kuat makan pedas nafsunya gede,” komentarnya.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Namun kemudian aku menguasai diri, kuminum air putihku dan kujawab, “Kalau ada sambal atau cabe memang nafsu makan jadi kuat”.

Ia tertawa tertahan. Aku tersenyum sambil memandang deretan giginya yang rapi dan, oh gingsulnya kelihatan.

Kubalas godaannya tadi,”Orang yang giginya gingsul kudengar juga gede nafsunya”.

Ia hanya tersipu-sipu tanpa bisa membalas godaanku. Nah lo, skor 1-0!

“Bapak ini paling bisa kalau menjawab,” akhirnya ia berucap.

Tampaknya kami cepat menjadi akrab, serasa sudah lama saling mengenal. Umi kelihatannya tidak keberatan kalau kupanggil namanya saja dan akupun memintanya supaya memanggil namaku saja, tanpa tambahan embel-embel yang hanya untuk alasan kesopanan. Umurnya lima tahun di atasku, sekitar tigapuluh tahun. Ia berdarah Jawa-Madura. Bapaknya Surabaya, ibunya Madura.

Setelah selesai makan kami masih duduk sebentar dan kubayar sekalian minumannya. Ia mengucapkan terima kasih.

“Sekarang mau kemana? Masih ada skedul latihan?” tanyaku sambil berjalan.
“Nggak. sudah habis untuk hari ini,” jawabnya.
“Saya juga mau pulang. Umi pulang ke mana?” Ia menyebutkan alamat rumahnya.
“Kalau begitu nanti kuantar saja. Jam segini susah cari mobil dan lagian.. Mau hujan,” kataku sambil melihat ke atas.

Kebetulan sore ini akau bawa mobil kantor untuk berangkat fitness rame-rame dari kantor. Awan gelap memang terlihat menaungi Jakarta. Kami berjalan ke pelataran parkir sambil berlari-lari kecil karena gerimis sudah turun. Kubuka pintu depan sebelah kiri, ia masuk dan akupun segera masuk dan kami berangkat pulang. Ternyata hujan tidak jadi turun. Kuantarkan ia sampai pintu rumahnya.

“Rumahmu kok sepi Um?” tanyaku.
“Iya pak. Saya tinggal sendirian setelah bercerai dengan suami saya”.
“Upps, Sorry. Bukan maksudku..” kataku minta maaf kalau telah mengorek masa lalunya.
“Nggak apa-apa To. Yaah inilah kenyataan yang harus kujalani,” katanya lirih.

Aku tak mau berlama-lama membahas soal ini, takut ia menjadi sedih. Segera aku berpamitan pulang.

“Nggak masuk dulu?”
“Terima kasih, sudah gelap. Nanti kemalaman sampai di rumah. Lain kali kamu kuantar lagi. Boleh kan?” kataku.
“Ternyata kamu punya takut juga. Takut kemalaman,” katanya sambil tertawa kecil. Keceriaannya sudah kembali lagi. Akupun masuk ke dalam mobil dan pulang.

Minggu depannya aku menjadi akrab dengan Umi. Teman-temanku sendiri tidak heran lagi melihat keakrabanku dengan Umi. Di kantor aku dikenal sebagai orang yang bisa bergaul dengan semua orang, baik dengan atasan bahkan dengan big boss, dengan rekan yang setingkat dan sampai dengan office boy sekalipun. Prinsipku sederhana saja. Dengan orang yang lebih tua kuanggap sebagai orang tua atau kakak dan dengan orang yang lebih muda kuanggap dia sebagai adik.

Dua minggu kemudian aku mengantarnya lagi dalam keadaan hari hujan lebat sehingga kuantar dia masuk ke rumahnya dengan berpayungan berdua. Karena hujan lebat disertai dengan angin kencang tak urung pakaian kami sedikit basah. Kali ini ia memaksaku masuk.

“Masuk dulu, tak bikinin minuman anget dhisik!” katanya dengan logat Jawa Timur yang kental.

Tidak biasanya dia menggunakan logat Jawa Timurnya. Aku masuk ke dalam rumahnya. Duduk di ruang tamu. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku untuk mengusir dingin. Hujan di luar belum reda.

Umi masuk ke dalam, mengganti bajunya yang basah dan sebentar kemudian sudah keluar lagi dengan kaus dan celana pendek longgar. Tidak lama dari ruang dalam terdengar instrumen lagunya The Police yang dimainkan dengan aransemen orkestra oleh London Philharmonic Orchestra. Kakiku bergerak mengikuti ketukan lagu dan mulutku menggumam bernyanyi. Di tangannya ada kaleng biskuit. Aku menelan ludah berharap ia membungkuk sehingga aku bisa mengintip isi kaus longgarnya.

Ia meletakkan kaleng biskuit di atas meja dengan merendahkan lututnya tanpa membungkuk. Harapanku melihat dua gunung kembarnya berlalu sudah. Tapi kuperhatikan dadanya yang tetap terlihat membusung di balik kaus longgarnya.

Pikiran ngeres tiba-tiba muncul. Selama ini aku sekedar ingin akrab saja tanpa ada keinginan untuk macam-macam. Kalapun ada perasaan hanyalah rasa senang memandang tubuh yang aduhai. Kalau pas tegangan lagi naik, maka kusalurkan dengan wanita-wanita yang kukenal sebelumnya. Paling tidak dua minggu sekali pasti Yanti, Kuda Sumbawaku selalu menelponku ke kantor minta untuk kubawa berpacu (Ingat Wanita Indonesia 7?).

Tapi kali ini berbeda. Mungkin karena situasi di dalam rumah dan udara dingin. Makanya betul juga kata orang. Persetubuhan bukan hanya terjadi karena niat pelakunya saja, namun juga karena adanya kesempatan. Waspadalah.. Waspadalah! Walaupun ada niat tapi kalau keadaan sekitarnya tidak memungkinkan?

“Minumannya sebentar lagi ya. Airnya lagi dimasak. Termosnya pas kosong. Mau minum apa?”

Aku terkejut.

“Ahh.. E.. E. Eeh. Susu.. Eh.. Teh susu,” sambil tergagap kata-kataku keluar begitu saja. Namun disaat terakhir akau masih tetap bisa menguasai diriku.
“Teh saja atau kopi. Susunya habis. Sorry,” ia tersenyum melihatku terbata-bata kemudian kembali masuk ke dalam.

Sebentar ia sudah kembali sambil membawa segelas teh panas dan handuk yang disampirkan di pundaknya. Rupanya sudah menjadi kebiasaannya untuk meletakkan sesuatu di atas tempat yang lebih rendah dengan cara merendahkan lututnya. Kemudian dilemparnya handuk ke arahku.

“Keringkan dulu tubuhmu! Nanti masuk angin”.

Kusambut handuknya dan kukeringkan rambutku saja. Bajuku memang basah tapi rasanya aku masih bisa memakainya. Ia duduk di depanku. Aku mengambil sepotong biskuit. Ia melihatku dan mencibirkan bibirnya. Tapi dari sinar matanya dia memendam sesuatu. Kuambil sebuah buku dari bawah meja. Kulihat sampulnya dan kubaca dengan suara perlahan, “Asmaragama”. Kutatap mukanya memerah dadu seperti mau menangis. Mungkin ia malu aku mengambil bukunya itu. Kunetralisir dengan meletakkan buku tersebut kembali kuganti dengan majalah.

Beberapa saat kemudian aku berpamitan. Di luar hujan masih deras, tapi kupikir biarlah kuterobos saja. Ketika kami sampai di pintu, ia kelihatan ragu mau membukakannya. Air mukanya tiba-tiba saja berubah aneh dalam pandanganku.

“To..!” Ia memegang lenganku. Feelingku mengatakan, “Anto kamu akan dapatkan dia malam ini!”
“Kenapa, kamu mau adu kekuatan cabe dengan gingsul?” tanyaku dengan bergurau. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Kupegang bahunya dan ia berbisik “Temani aku malam ini. Hidupku tiba-tiba terasa hampa..”

Kupeluk dia dan ia semakin merapatkan kepalanya di dadaku. Kubawa dia duduk kembali di sofa. Tapi dia menggeleng.

“Anto, masakan aku sebagai seorang wanita harus mengatakannya secara verbal kepadamu?”

Bersambung Ke bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...